Rabu, 25 Juni 2014

Bermodal Rp500 Ribu, Usaha Rempeyek Kini Beromzet Jutaan Rupiah

Kenaikan harga kedelai sempat menyulitkan pasokan bahan baku.

ddd
Rempeyek kacang digemari banyak orang.
Rempeyek kacang digemari banyak orang. (VIVAnews/Daru Waskita)
Follow @vivanews
VIVAnews - Hanya bermodal Rp500 ribu pada 2002, kini perajin rempeyek, Sumarji (46), mampu menghasilkan omzet lebih dari Rp4 juta per hari.

Ia adalah perajin rempeyek dari Dusun Pelem Madu, Desa Kebon Agung, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, DIY. Dia menekuni usahanya yang hingga saat ini berkembang besar dan pasarnya tidak saja di Yogya, namun merambah ke Jawa Tengah.

"Modal saya hanya Rp500 ribu dan dikerjakan oleh keluarga saja," kata dia kepada VIVAnews, Sabtu 7 September 2013.

Menurut Sumarji, usahanya semakin berkembang usai gempa 2006, yang kini juga diikuti oleh warga lainnya.

"Dulu hanya sekitar 10 kepala keluarga yang menekuni dan memproduksi rempeyek. Namun, saat ini, telah mencapai sekitar 42 perajin rempeyek," jelas Sumarji, yang juga sebagai kepala dusun Pelem Madu.

Pada awal produksi rempeyek, baik rempeyek kacang atau kedelai, hanya sekitar 300 bungkus. Kini, semakin bertambah banyak hingga 2.700 bungkus per hari.

"Dulu memproduksi rempeyek hanya keluarga semata, tetapi saat ini sudah ada 18 tenaga bantuan, yang kebanyakan ibu rumah tangga," ujarnya.

Sumarji mengaku bahwa usaha rempeyek ini maju berkat bimbingan dan pendampingan dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) yang merupakan perusahaan milik pemerintah.

"Pada awalnya, PNM hanya melakukan bimbingan dan pendampingan, namun hingga pemberian pinjaman modal dengan bunga ringan," kata dia.

Usaha rempeyek ini, menurut Sumarji, juga ada kendala yang menyebabkan keuntungan semakin menipis seperti kenaikan harga bahan bakar minyak dan kenaikan harga kedelai yang naik akibat melemahnya nilai rupiah.

"Kami sudah naikkan harga satu bungkus rempeyek menjadi Rp2.700. Satu bungkus berisi delapan rempeyek," tuturnya.

Akibat kenaikan harga kedelai, tambah Sahisni (46), istri Sumarji, isi kedelai atau kacang di dalam rempeyek dikurangi. Serta dikurangi isi rempeyek yang sebelumnya isi delapan menjadi hanya berisi tujuh rempeyek.

Kenaikan harga kedelai, Sahisni melanjutkan, juga menyulitkannya untuk mendapatkan pasokan kedelai. Harga kedelai saat ini juga tak menentu. "Satu kilogram kedelai lokal Rp9.500, sedangkan kedelai impor lebih dari harga kedelai lokal," ujarnya.

Lebih lanjut, Sahisni mengatakan, untuk pemasaran, dia tidak mengalami kesulitan, karena sudah ada agen penjual yang mengambil rempeyek dari rumah produksinya untuk dijual ke wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.

"Bahkan dulu, ada yang pesan rempeyek satu kontainer sehingga pembuatan rempeyek dilakukan oleh puluhan perajin di Pelem Madu ini," tuturnya. (art)
Sumber: http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/449454-meraup-jutaan-rupiah-dari-bisnis-cokelat-di-makasar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label